Organisasi
Belajar
Learning
Organization atau Organisasi belajar adalah suatu konsep dimana organisasi
dianggap mampu untuk terus menerus melakukan proses pembelajaran mandiri (self
leraning) sehingga organisasi tersebut memiliki ‘kecepatan berpikir dan bertindak’
dalam merespon beragam perubahan yang muncul.
Peter
Senge (1990: 3) learning organizations are:
…organizations where people continually expand their capacity to create the results they truly desire, where new and expansive patterns of thinking are nurtured, where collective aspiration is set free, and where people are continually learning to see the whole together.
…organizations where people continually expand their capacity to create the results they truly desire, where new and expansive patterns of thinking are nurtured, where collective aspiration is set free, and where people are continually learning to see the whole together.
Organisasi
belajar adalah organisasi dimana orang mengembangkan kapasitas mereka secara
terus-menerus untuk menciptakan hasil yang mereka inginkan, dimana pola pikir
yang luas dan baru dipelihara, dimana aspirasi kolektif dipoles, dimana
orang-orang belajar tanpa henti untuk melihat segala hal secara bersama-sama.
Menurut
Peter Senge ada Lima disiplin (lima pilar) yang membuat suatu organisasi
menjadi organisasi pembelajar. Personal Mastery (Penguasaan Pribadi), Mental
Models (Model Mental), Shared Vision (Visi bersama), Team Learning (Belajar
beregu) dan System Thinking (Berpikir sistem).
Pengertian
Personal Mastery
Peter Senge
menyebutkan ada 5 hal yang termasuk dalam proses pembelajaran manusia yang
dapat mengatasi kebutaan belajar seseorang. Satu dari lima hal tersebut adalah
Personal Mastery. Senge mendefinisikan Personal Mastery sebagai menciptakan
sesuatu yang dinginkan seseorang dalam kehidupan dan pekerjaannya. Personal
Mastery menuntut komitmen seseorang terhadap kontinuitas pengembangan suatu hal
yang dikerjakan dan dalam semua aspek kehidupan seseorang. Sehingga Personal
Mastery (Penguasaan Diri) merupakan suatu proses pembelajaran kehidupan
seseorang, bukan sesuatu yang sudah dimiliki (Junadi)
1. Fran Sayers
Ph.D :
Personal
Mastery adalah:
a.
Pengembangan
diri seseorang yang berkesinambungan.
b. Selalu
mencari jalan untuk bertumbuh, hal-hal baru untuk dipelajari, bertemu dengan
orang yang menarik
c. Suatu jalan
kehidupan yang menekankan pada pertumbuhan dan kepuasan dalam kehidupan
personal dan professional.
2. Michael J. Marquardt:
Suatu cara
yang berkesinambungan untuk menjernihkan dan memperdalam visi, energy dan
kesabaran seseorang
Sayers
menganjurkan agar kita menggunakan Personal Mastery karena Personal Mastery
adalah hal yang baik untuk dilakukan, serupa dengan sebagian besar agama
dan kepercayaan yang dimiliki kita yaitu memotivasi kita untuk
mencapai yang terbaik dari diri kita “.
Mastery tidak
berarti mengontrol orang lain, maupun diri sendiri. Seiring berjalannya waktu
yang dilakukan adalah menggabungkan berbagai variasi dan kadang-kadang
konflik kepribadian seseorang (Leonard).
Aspek
Personal Mastery
Oleh
Metavarsity Course, Personal Mastery disebutkan memiliki 4 aspek, yaitu:
1.
Aspek Emosional
a.
Memahami
emosi diri sendiri dan akibatnya
b. Memahami
orang lain dan emosi yang dialaminya
c.
Berdaya
secara emosional dan nyata
d. Menjadi
vulnerable dan terbuka dengan suatu hubungan
2.
Aspek Spiritual
a.
Terhubung
dengan inner self
b. Mengapresiasi
kehidupan, menyayangi orang lain
c.
Bersatu
dalam perbedaan dengan orang lain
d. Menciptakan
dunia yang lebih baik untuk tempat hidup
3.
Aspek Fisik
a.
Berada
secara fisik dan dalam lingkungan
b. Memahami
hubungan antara ‘mind-body’
c.
Bertanggung
jawab dan membuat keputusan positif
d. Memanage
stress dan mencapai keseimbangan
4.
Aspek Mental
a.
Memahami
cara pikiran bekerja dan cara menciptakan realitas
b. Meningkatkan
fokus mental dan konsentrasi
c.
Menciptakan
pikiran yang jernih dan inovatif
d. Menciptakan
realitas yang diinginkan.
Dengan
menguasai 4 aspek yang telah dikemukakan, diharapkan seseorang dapat
menggunakannya untuk mengatasi kebutaan yang dialami. Setelah mampu menguasai 4
aspek tersebut, dapat dikatakan telah menguasai Personal Mastery .
Seseorang yang telah menguasai Personal Mastery memiliki komitmen yang tinggi
terhadap suatu hal, lebih sering mengambil insiatif, secara terus menerus
mengembangkan kemampuannya untuk menciptakan hasil terbaik dalam kehidupan yang
benar-benar diinginkan.
Dimensi
Personal Mastery
Penerapan
Personal Mastery dapat dilihat dari dua dimensi yang saling berkaitan. Dimensi
dimana seseorang tersebut sebagai individu dan dimensi dimana personal tersebut
menjadi bagian dari suatu kelompok (team). Sebagai individu, upaya pengendalian
diri (personal mastery) dengan segala unsurnya akan dapat membentuk karakter
personal, sedangkan perannya pada kelompok, PM diperlukan untuk menjamin adanya
pembelajaran organisasi (Learning Organization). Paduan karakter personal yang
dimiliki oleh anggota team dalam suatu organisasi akan membuat dinamika dan menumbuhkan
organisasi tersebut.
Dari
interasksi ini munculnya benih-benih leadership yang diharapkan akan melahirkan
pemimpin-pemimpin yang tangguh.
Keuntungan
menguasai Personal Mastery menurut Metavarsity Course adalah:
1. Kemampuan
mengambil tanggung jawab pemilihan pribadi
2. Kejelasan
dan profesionalisme visi
3. Kohesive,
team work yang bersatu
4. Penurunan
jumlah karyawan yang absen melalui peningkatan kesejahteraan karyawan,
mengendalikan stress dan sikap positif
5. Menciptakan
pertumbuhan organisasi yang tetap dan berjangka panjang
6. Pemenuhan
tanggung jawab social dengan baik
Dengan
demikian terlihat jelas bahwa Personal Mastery tidak saja baik bagi diri
sendiri namun juga mempengaruhi lingkungan kerja, lingkungan tempat tinggal
dengan cara yang positif.
Personal
Mastery dan Leadership
Personal
Mastery, pembelajaran organisasi (Learning Organization) dan Leadership
merupakan bagian yang saling terkait. Personal Mastery walaupun secara langsung
berpengaruh pada organisasi namun belum tentu suatu organisasi dapat berubah
karena Personal Mastery. Di sisi lain dapat dikatakan tidak ada dinamika dalam
Learning Organizatian jika tidak memiliki Personal Mastery.
Seorang yang
memiliki Personal Mastery yang kuat akan berpotensi menjadi leader karena telah
memiliki dasar-dasar leadership yang baik. Modal dasar utama yang dimiliki adalah
visi dan komitmen yang kuat untuk mencapai tujuan. Dengan demikian kemana arah
organisasi itu akan dituju sudah jelas dari awal. Begitu juga dari
kepribadiannya yang matang tentu akan menjadi panutan para anggota team yang
lain. Personal Mastery yang baik melahirkan juga seorang dengan nilai humanis
yang tinggi sehingga dengan dasar rasa kasih akan bisa memberikan hubungan yang
hangat kepada yang lainnya. Hal ini terutama akan sangat menyentuh pada mereka
yang berperan sebagai bawahannya. Hubungan interpersonal yang baik menjadi
modal juga untuk bisa merangkul semua individu dalam kelompok tersebut dari
beraneka ragam asal serta karakter. Dengan semangat pengabdian lebih menjamin
bahwa seorang leader pasti akan mengutamakan kepentingan team, kelompok atau
organisasi tertentu di atas kepentingannya sendiri.
Ciri Good
dan Poor Personal Mastery
Mereka yang
memilik penguasaan diri (personal mastery) yang tinggi akan memiliki cirri
sebagai berikut;
1.
Melihat visi sebagai panggilan dari lubuk hati paling
dalam dan bukan sekedar gagasan atau ide.
2.
Memiliki komitmen dan inisiatif yang lebih tinggi
disbanding lainnya.
3.
Menyadari bahwa penguasaan diri merupakan suatu proses
pembelajaran yang berkelanjutan sepanjang hidup.
4.
Terus berupaya untuk mengembangkan diri dengan
menerima serta menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi.
Sedangkan
mereka yang memilik penguasaan diri yang buruk cenderung bersikap pasif. Tidak
mau repot dengan menjalankan upaya-upaya pembenahan diri yang sangat membebani.
Mereka beranggapan bahwa Personal Mastery tidak lebih dari suatu pengekangan,
memasung nilai-nilai kebebasan. Namun sayangnya alasan-alasan ini sebatas
retroika yang tanpa disadari dalam pemahaman Personal Mastery pun juga
terkandung nilai kebebasan untuk berkarya dan berkreasi. Bukan cuma konsep
ataupun bahan diskusi semata. Dengan demikian mereka yang ada dalam kelompok
ini sudah puas dan tidak mau terganggu lagi dari suasana confort zone yang
dinikmati kini. Mereka memiliki tujuan hidup yang tidak jelas arahnya serta
kemungkinan juga tidak memiliki visi dalam menjalankan hidup baik untuk diri
pribadi mapun kelompok. Mereka juga sangat berat dalam menyesuaikan diri dengan
perkembangan dan perubahan lingkungan.
Membangkitkan
Personal Mastery
Sebagai
manusia, kita harus tetap mempertahankan Personal Mastery yang sudah kita
miliki. Karena Personal Mastery membawa dampak positif baik bagi diri sendiri
maupun bagi orang lain di lingkungan tempat tinggal dan lingkungan kerja.
Junadi (2010) menyebutkan cara yang harus dilakukan untuk mengembangkan
Personal Mastery ke arah yang sempurna. Cara tersebut adalah pertama kita harus
terus menerus mencari kejelasan hal yang berarti bagi hidup kita. Kedua belajar
melihat realitas kekinian dengan pikiran jernih (Junadi,2010). Penting untuk
diingat bahwa Personal Mastery adalah sebuah proses yang kontinu. Sehingga
dibutuhkan komitmen yang tinggi untuk terus menerus mempertahankan dan
mengembangkannya.
sumber :
http://anekakawan.blogspot.co.id/2010/10/personal-mastery.html